9, September 2017

Mengulas Terkait Hukum Qurban dalam Islam Atas Nama Kelompok, Sekolah Atau Perusahaan

Berkurban menjadi ibadah yang sangat dianjurkan. Selain pekurban akan mendapatkan banyak pahala, pekurban juga bisa sembari berbagi dengan orang sekitar dari daging kurban tersebut. Ketentuannya adalah jika berkurban seekor kambing atau domba maka diperuntukkan untuk satu orang. Sedangkan untuk berkurban sapi maka untuk tujuh orang dan jika berkurban unta maka diperuntukkan bagi 10 orang. Namun di era yang serba maju ini, banyak juga kondisi membingungkan tentangĀ hukum qurban dalam Islam, misalnya adalah kondisi kurban dari perusahaan atau kelompok yang kerap dilakukan.

 

Mungkin Anda sebagai karyawan kantoran atau guru di sekolah kerapkali mengadakan iuran bersama untuk berkurban di hari raya Idul Adha. Dari iuran itu kemudian dibelikan hewan kurban lalu disembelih dan diatasnamakan dengan kelompok, sekolah ataupun perusahaan. Tentunya hal ini perlu dipertanyakan terkait hukum dan kejelasannya. Dengan mengerti hukum yang benar adanya, maka kurban yang dilakukan tersebut diharapkan tidak sia-sia sehingga pahala bisa didapatkan.

 

Pada dasarnya ada 3 kemungkinan dalam kondisi seperti ini, yaitu:

 

  1. Untuk yang pertama adalah kemungkinan jika perusahaan milik perseorangan sehingga setiap dana yang dikeluarkan baik untuk kegiatan sosial atau ibadah hakekatnya adalah milik seorang saja yaitu pemiliknya. Apabila perusahaan memberikan kurban, maka bisa dibilang kurban tersebut adalah milik pemilik dari perusahaan sehingga bisa tetap sah sebagai ibadah dari pemilik perusahaannya.
  2. Selanjutnya adalah kemungkinan jika perusahaan ini milik beberapa pemodal dan kurban hanya bentuk dari CSR, maka hal ini bisa dibilang tidak sah kurbannya. Hal ini lantaran pemilik hewan tersebut banyak dan kurban hanya bisa ditujukan sesuai ketentuan dimana kambing untuk 1 orang, sapi 7 orang dan unta 10 orang. Jika demikian adanya, maka hakikat hewan kurban berubah menjadi sedekah.
  3. Kemungkinan ketiga adalah perusahaan memberi hewan kurbannya ke karyawan. Misalnya sebuah perusahaan berkurban sebanyak 5 ekor sapi, maka bisa ditujukan untuk 35 orang karyawannya. Semacam ini diperbolehkan dan pahala tersebut juga untuk karyawan.
  4. Jika kasusnya adalah pembelian hewan kurban hasil dari patungan karyawan, dan diberikan atas nama perusahaan, maka juga tidak sah kurbannya tersebut. Cara semacam ini juga dihitung sebagai sedekah.

 

Itulah beberapa kemungkinan kejadian yang ada di masyarakat dalam hal berkurban berkelompok. Untuk bisa menjadikannya sah sebagai ibadah kurban, maka harus dipastikan kepemilikan dari hewan kurban tersebut. Jika hewan kurban adalah hadiah dari perusahaan, maka harus dipastikan siapa yang akan dihadiahi. Selain itu, setelah hewan kurban diberikan ke karyawan, maka segala hukum dan sunnah pun menjadi berlaku pada karyawan bersangkutan misalnya tidak diperkenankan memotong rambut dan kuku dan lain sebagainya.